ZIYARAH KUBUR

Diposting pada

ziyarah kubur

ZIYARAH KUBUR

Diantara amaliyah aswaja seputar perlakuan terhadap orang-orang yang sudah meninggal adalah menziyarahi kubur mereka. Dalam masalah ini kami mendapati pandangan para ulama mengenai hukum ziyarah kubur secara umum adalah boleh, bahkan sebagian besar dari yang membolehkan tersebut menyatakan sunnah atau dianjurkan, bahkan sebagian ada yang berpendapat wajib.

a. Dalil-Dalil Yang Menjadi Rujukan Sunnahnya Ziyarah Kubur

Adapun dalil-dalil yang menjadi hujjah para ulama mensunnahkan atau membolehkan ziyarah kubur diantaranya adalah sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam :

1. Hadits riwayat dari ayah Ibn Buroidah dalam Sohih Muslim

عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

Dari Ibnu Buroidah dari Ayahnya, ia berkata : Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda ; “Aku telah (pernah) melarang kalian berziyaroh kubur, maka (sekarang aku perintahkan) berziyarohlah kalian kekuburan” (HR. Muslim)

2. Hadits riwayat dari Abi Huroiroh dalam Sohih Muslim

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ اِسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

Dari Abi Huroiroh ra, ia berkata : ‘Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menziyarahi makam ibunya dan beliau menangis dan orang-orang disekitar beliaupun menangis, Beliau bersabda : “Aku memohon idzin kepada tuhanku agar aku diperkenankan memohonkan ampun untuk ibuku, maka aku tidak diizinkan, dan aku memohon izin agar agu diperkenankan menziyarahi kuburnya dan aku diizinkan, maka berziyaralah kalian kekuburan sesungguhnya ziyarah kubur dapat mengingatkan kematian.“ (HR. Muslim)

Imam An Nawawi menjelaskan hadits diatas sebagai berikut :

قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا) هَذَا مِنَ الْأَحَادِيْثِ الَّتِي تَجْمَعُ النَّاسِخَ وَالْمَنْسُوْخَ وَهُوَ صَرِيْحٌ فِي نُسْخِ نَهْيِ الرِّجَالِ عَنْ زِيَارَتِهَا وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ زِيَارَتَهَا سُنَّةٌ لَهُمْ وَأَمَّا النِّسَاءُ فَفِيْهِنَّ خِلاَفٌ لِاَصْحَابِنَا

Adapun sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, “Aku telah (pernah) melarang kalian berziyaroh kubur, maka (sekarang aku perintahkan) berziyarohlah kalian kekuburan” ini adalah termasuk hadits-hadits yang mencakup antara Nasikh (dalil penyalin/penghapus) dan dalil Mansukh (yang disalin/dihapus) dan hadits tersebut adalah dalil yang jelas dalam menghapus hukum larangan ziyarah kubur bagi laki-laki. Semua (para ulama) sepakat bahwasannya ziyarah kubur adalah sunnah untuk laki-laki, sedang bagi perempuan dalam masalah ziyarah kubur terdapat perbedaan pendapat diantara kalangan kami (Syafi’iyah). (Syarah Muslim, vol. 7, hlm. 46)

Sedang khilafiyah atau perbedaan pendapat dalam masalah ziyarah kubur berkisar dalam masalah ziyarah kubur bagi perempuan, sebagian ada yang melarang, sebagian ada yang memakruhkan, sebagian ada yang membolehkan dengan syarat. Untuk mengetahui sepintas khilafiyah tersebut, berikut kami kutipkan uraian dari Al Hafizh Ibnu hajar Al ‘Asqolani :

قَالَ النَّوَوِيُ تَبَعًا لِلْعَبْدَرِيّ وَالْحَازِمِي وَغَيْرِهِمَا اِتَّفَقُوْا عَلَى أَنَّ زِيَارَةَ الْقُبُورِ لِلرِّجَالِ جَائِزَةٌ كَذَا اَطْلَقُوا وَفِيْهِ نَظَر لِأَنَّ بْنَ أَبِي شَيْبَةَ وَغَيْرَهُ رَوَى عَنِ بْنِ سِيْرِيْنَ وَإِبْرَاهِيْمَ اَلنَّخَعِي وَالشُّعْبِي اَلْكَرَاهَةَ مُطْلَقًا حَتَّى قَالَ اَلشُّعْبِي لَوْلاَ نَهَي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَزُرْتُ قَبْرَ اِبْنَتِي. فَلَعَلَّ مَنْ أَطْلَقَ أَرَادَ بِالْاِتِّفَاقِ مَا اِسْتَقَرَّ عَلَيْهِ الْأَمْرُ بَعْدَ هَؤُلآءِ وَكَأَنَّ هَؤُلآءِ لَمْ يَبْلُغْهُمْ النَّاسِخُ وَاللهُ أَعْلَمُ. وَمُقَابِلُ هَذَا قَوْلُ بْنِ حَزْمٍ أَنَّ زِيَارَةَ الْقُبُورِ وَاجِبَةٌ وَلَوْ مَرَّةً وَاحِدَةً فِي الْعُمْرِ لِوُرُوْدِ الْأَمْرِ بِهِ وَاخْتُلِفَ فِي النِّسَاءِ فَقِيْلَ دَخَلْنَ فِي عُمُوْمِ الْإِذْنِ وَهُوَ قَوْلُ الْأَكْثَرِ وَمَحَلُّهُ مَا إِذَا أَمِنَتْ الْفِتْنَةَ. وَيُؤَيِّدُ الْجَوَازَ حَدِيْثُ الْبَابِ وَمَوْضِعُ الدِّلاَلَةِ مِنْهُ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يُنْكِرْ عَلَى الْمَرْأَةِ قُعُوْدِهَا عِنْدَ الْقَبْرِ وَتَقْرِيْرُهُ حُجَّةٌ. وَمِمَّنْ حَمَلَ الْإِذْنَ عَلَى عُمُوْمِهِ لِلرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ عَائِشَةٌ فَرَوَى اَلْحَاكِمُ مِنْ طَرِيْقِ بْنِ أَبِي مَلِيْكَةَ أَنَّهُ رَآهَا زَارَتْ قَبْرَ أَخِيْهَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَقِيْلَ لَهَا أَلَيْسَ قَدْ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ قَالَتْ نَعَمْ كَانَ نَهَى ثُمَّ أَمَرَ بِزِيَارَتِهَا

Seraya mengikuti pendapat Al ‘Abdari dan Al Hazimi juga yang lain, Imam An Nawawi berkata : Para ulama sepakat bahwasannya ziyarah kubur bagi laki-laki adalah boleh, demikian mereka memutlakkan (kesepakatan para ulama). Dalam hal ini ada yang perlu ditinjau kembali, mengingat Ibnu Abi Syaibah dan yang lain telah meriwayatkan dari Ibnu Sirin, Ibrohim An Nakho’i, serta dari As Syu’biy tentang makruhnya ziyarah kubur secara mutlaq, sampai-sampai As Syu’biy berkata: “Seandainya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam tidak melarang ziyarah kubur, niscaya aku menziyarahi kubur anak perempuanku”. (Ibnu Hajar berkata) : Mungkin yang dikehendaki oleh para ulama yang memuthlaq-kan kesepakatak (bolehnya ziyaroh kubur) berdasar pada apa yang telah ditetapkan sesudah mereka (yang memakruhkan) dan seakan belum sampai kepada mereka (yang memakruhkan) hukum Nasikh (dalil yang menghapus larangan ziyarah kubur). Wallohu A’lam. Dan sebagai perbandingan dalam masalah ini adalah pendapat Ibnu Hazm, bahwasannya ziyarah kubur adalah wajib hukumnya meskipun sekali seumur hidup, berdasar adanya perintah tentang hal itu. Dan terjadi perbedaan pendapat para ulama dalam masalah ziyarah kubur bagi perempuan. Dikatakan bahwa perempuan masuk dalam keumuman izin (berziyaroh), dan ini adalah pendapat mayoritas, dimana hukum jawaz bagi perempuan tersebut berlaku ketika tidak dikhawatirkan timbulnya fitnah. Pendapat (boleh) ini dikuatkan hadits (Nabi saw dan Sayyidah ‘Aisyah ra berziyarah ke makam Baqi’), yang diambil sebagai dalil dari hadits tersebut adalah Nabi saw tidak mengingkari perempuan duduk disisi kubur, sedang taqrir (ketetapan) Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam adalah hujjah. Diantara mereka yang memberlakukan izin (ziyaroh) secara umum baik bagi laki-laki maupun perempuan adalah Sayyidah ‘Aisyah ra. Al Hakim meriwayatkan dari jalur Ibnu Abi Malikah, bahwasannya Ibnu Abi Malikah melihat ‘Aisyah menziyarahi makam saudaranya yakni Abdur Rohman, maka dikatakan padanya; “Bukankah Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam melarang ziyarah kubur?” ‘Aisyah ra menjawab “ Benar, (tapi) kemudian Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan ziyarah kubur.” (Fathul Bari, vol. 3, hlm. 148)

Sedangkan Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan tentang khilafiyah ziyarah kubur bagi perempuan diantaranya kami kutip sbb :

وَفِيْهِ دَلِيْلٌ لِمَنْ جَوَّزَ لِلنِّسَاءْ زِيَارَةَ الْقُبُورِ وَفِيْهَا خِلاَفٌ لِلْعُلَمَاءِ وَهِيَ ثَلاَثَةُ أَوْجُهٍ لِأَصْحَابِنَا أَحَدُهَا تَحْرِيْمُهَا عَلَيْهِنَّ لِحَدِيْثِ لَعَنَ اللهَ زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ وَالثَّانِي يُكْرَهُ وَالثَالِثُ يُبَاحُ وَيَسْتَدِلُّ لَهُ بِهَذَا الْحَدِيْثِ وَبِحَدِيْثِ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَيُجَابُ عَنْ هَذَا بِأَنَّ “نَهَيْتُكُمْ” ضَمِيْرُ ذُكُوْرٍ فَلاَ يَدْخُلُ فِيْهِ النِّسَاءُ عَلَى الْمَذْهَبِ الصَّحِيْحِ الْمُخْتَارِ فِي الْأُصُوْلِ. والله أعلم

Dan dalam hadits tersebut (hadits Rosululloh shlollahu alaihi wasallam dan Sayyidah ‘Aisyah ra berziyarah kemakam Baqi’) menjadi dalil mereka yang memperbolehkan ziyarah kubur bagi perempuan. Dalam masalah ziyaroh kubur bagi perempuan terdapat perbedaan pendapat para ulama, yakni terdapat tiga pandangan : Pertama, Mengharamkan ziyarah kubur bagi perempuan berdasar hadits “Alloh melaknat perempuan yang berziyarah kubur”. Kedua : Memakruhkan. Ketiga Membolehkan, pendapat yang membolehkan mengambil dalil dari hadits tersebut dan hadits “Aku telah (pernah) melarang kalian berziyaroh kubur, maka (sekarang aku perintahkan) berziyarohlah kalian kekuburan”. Pendapat tersebut dijawab (disanggah); bahwa Dhomir (kata ganti) yang ada pada kalimat Nahaitukum (kalian) adalah kata ganti untuk laki-laki, maka didalamnya tidak termasuk perempuan, inilah madzhab yang sohih dan dipilih. Wallohu A’lam. (Syarah Muslim, vol. 7, hlm. 45)

b. Pendapat Para Ulama Dari Masing-Masing Madzhab

1. Para Ulama Madzhab Hanafiyah

وَلَمْ يَتَكَلَّمْ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ عَلَى زِيَارَةِ الْقُبُورِ ، وَلَابَأْسَ بِبَيَانِهِ تَكْمِيلًا لِلْفَائِدَةِ قَالَ فِي الْبَدَائِعِ ، وَلَا بَأْسَ بِزِيَارَةِ الْقُبُورِ وَالدُّعَاءِ لِلْأَمْوَاتِ إنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَ مِنْ غَيْرِ وَطْءِ الْقُبُورِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {إنِّي كُنْت نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ،أَلَا فَزُورُوهَا } وَلِعَمَلِ الْأُمَّةِ مِنْ لَدُنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلَى يَوْمِنَا هَذَا اهـ. وَصَرَّحَ فِي الْمُجْتَبَى بِأَنَّهَا مَنْدُوبَةٌ وَقِيلَ تَحْرُمُ عَلَى النِّسَاءِ وَالْأَصَحُّ أَنَّ الرُّخْصَةَ ثَابِتَةٌ لَهُمَا { وَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُ السَّلَامَ عَلَى الْمَوْتَى السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَيُّهَا الدَّارُ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا – إنْ شَاءَ اللهُ – بِكُمْ لَاحِقُونَ أَنْتُمْ لَنَا فَرَطٌ وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعٌ فَنَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ }

Imam Az Zayla’iy (pengarang Al Bahrur Roiq) tidak membicarakan atas masalah ziyarah kubur, (namun) tidaklah mengapa menjelaskannya sebagai penyem-purna keterangan. Beliau berkata dalam Al Bada-i’ : Dan tidaklah mengapa ziyarah kubur dengan tanpa menginjak kuburan, dan tidak mengapa berdo’a untuk orang-orang mati jika mereka adalah orang-orang beriman, karena sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, : “Aku telah (pernah) melarang kalian berziyaroh kubur, ingatlah (sekarang aku perintahkan) maka berziyarohlah kalian kekuburan”, dan juga karena hal tersebut menjadi perbuatan umat islam sejak zaman Rosululloh saw hingga hari ini. Dan beliau menjelaskan dalam kitab “Al Mujtaba” bahwasannya ziyarah kubur adalah disunnahkan. Dan dikatakan ziyarah kubur haram atas perempuan, sedang yang paling sohih adalah kemuda-han (kebolehan ziyarah kubur) berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam mengajarkan salam kepada orang-orang mati berupa “Salam atas kalian wahai penduduk kubur dari kalangan orang-orang beriman dan orang-orang islam, sesungguhnya kami –Insya Alloh- akan menysul kalian, kalian adalah pendahulu bagi kami sedang kami adalah pengikut bagi kalian, maka kami memohon keselamatan kepada Alloh”. (Al Minahul Kholiq Alal Bahrir Roiq, Vol 5 hal, 382)

مَطْلَبٌ فِي زِيَارَةِ الْقُبُورِ ( قَوْلُهُ وَبِزِيَارَةِ الْقُبُورِ ) أَيْ لَا بَأْسَ بِهَا ، بَلْ تُنْدَبُ كَمَا فِي الْبَحْرِ عَنْ الْمُجْتَبَى ، فَكَانَ يَنْبَغِي التَّصْرِيحُ بِهِ لِلْأَمْرِ بِهَا فِي الْحَدِيثِ الْمَذْكُورِ كَمَا فِي الْإِمْدَادِ ، وَتُزَارُ فِي كُلِّ أُسْبُوعٍ كَمَا فِي مُخْتَارَاتِ النَّوَازِلِ . قَالَ فِي شَرْحِ لُبَابِ الْمَنَاسِكِ إلَّا أَنَّ الْأَفْضَلَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَالسَّبْتِ وَالِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ ، فَقَدْ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ وَاسِعٍ : الْمَوْتَى يَعْلَمُونَ بِزُوَّارِهِمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمًا قَبْلَهُ وَيَوْمًا بَعْدَهُ ، فَتَحَصَّلَ أَنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَفْضَلُ .

Pembahasan tentang ziyarah kubur. (Ucapan Pengarang Ad Durrul Mukhtar yakni Muhammad ‘Alauddin bin Ali Al Hashkafiy Al Hanafiy ; “dan ziyarah kubur”) yakni tidaklah mengapa ziyarah kubur, bahkan disunnahkan sebagaimana dalam kitab Al Bahrur Roiq yang diambil dari kitab Al Mujtabaa, maka seyogyanya menjelaskan masalah tersebut mengingat adanya perintah ziyarah kubur dalam hadits sebagaimana apa yang ada dalam kitab Al Imdaad, dan hendaknya kubur diziyarahi disetiap minggu sebagaimana dalam Mukhtaarotun Nawaazil. Beliau berkata dalam Syarah Lubaabul Manaasik, bahwa yang paling utama adalah hari Jum’ah, Sabtu, Senin dan Kamis. Muhammad bin Wasi’ berkata : ‘Bahwa orang-orang yang telah meninggal mengetahui orang-orang yang menziyarainya dihari Jum’ah dan hari sebelumnya juga hari setelahnya’, oleh karenanya hari Jum’ah adalah yang paling utama. (Roddul Mukhtar, 6 hal, 400)

أَمَّا عَلَى الْأَصَحِّ مِنْ مَذْهَبِنَا وَهُوَ قَوْلُ الْكَرْخِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَنَّ الرُّخْصَةَ فِي زِيَارَةِ الْقُبُورِ ثَابِتَةٌ لِلرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ جَمِيعًا فَلَا إشْكَالَ وَأَمَّا عَلَى غَيْرِهِ فَكَذَلِكَ نَقُولُ بِالِاسْتِحْبَابِ لِإِطْلَاقِ الْأَصْحَابِ ،

Adapun menurut yang paling sohih dari madzhab kami, dan itu adalah pendapat Al Karkhi dan yang lain, bahwasannya kemurahan (kebolehan) ziyarah kubur berlaku bagi laki-laki dan perempuan secara menyeluruh, maka tidak ada Isykal dalam masalah tersebut. Sedang menurut yang lain yang sekaligus adalah pendapat kami; bahwasannya disunnahkan ziyarah kubur karena para ulama memutlaqkannya. Wallohu A’lamu Bis Showaab (Roddul Mukhtar, Vol 9 hal, 170)

2. Para Ulama Madzhab Malikiyah

( وَ ) جَازَ ( زِيَارَةُ الْقُبُورِ ) بَلْ هِيَ مَنْدُوبَةٌ ( بِلَا حَدٍّ ) بِيَوْمٍ أَوْ وَقْتٍ أَوْ فِي مِقْدَارِ مَا يَمْكُثُ عِنْدَهَا أَوْ فِيمَا يُدْعَى بِهِ أَوْ الْجَمِيعُ وَيَنْبَغِي مَزِيدُ الِاعْتِبَارِ حَالَ الزِّيَادَةِ وَالِاشْتِغَالُ بِالدُّعَاءِ وَالتَّضَرُّعِ وَعَدَمُ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ عَلَى الْقُبُورِ خُصُوصًا لِأَهْلِ الْعِلْمِ وَالْعِبَادَةِ وَلْيُحْذَرْ مِنْ أَخْذِ شَيْءٍ مِنْ صَدَقَاتِ أَهْلِ الْمَقَابِرِ فَإِنَّهُ مِنْ أَقْبَحِ مَا يَكُونُ .

(dan) boleh (ziyarah kubur) bahkan hal itu disunnahkann (tanpa ada batasan) hari, waktu, kadar diam disisi kubur, apa yang dido’akan dikubur, atau semuanya. Dan hendaknya ada tambahan ibarot (peringatan bagi peziyarah) ketika berziyarah, dan hendaknya disibukkan dengan berdo’a, tadhorru’ dan tidak makan serta minum dikuburan, terutama bagi orang berilmu dan ahli ibadah, dan hendaknya pula menjaga diri untuk tidak mengambil sesuatu dari sedekah keluarga ahli kubur, karena sesungguhnya yang demikian adalah termasuk seburuk-buruk apa yang terjadi. (As Syarhul Kabir Lid Dardiri, Vol 1 hal, 422)

( قَوْلُهُ بَلْ هِيَ مَنْدُوبَةٌ ) أَيْ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ { كُنْت نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا } وَلِأَحَادِيثَ أُخَرَ تَقْتَضِي الْحَثَّ عَلَى الزِّيَارَةِ وَذَكَرَ فِي الْمَدْخَلِ فِي زِيَارَةِ النِّسَاءِ لِلْقُبُورِ ثَلَاثَةَ أَقْوَالٍ الْمَنْعُ ، وَالْجَوَازُ عَلَى مَا يُعْلَمُ فِي الشَّرْعِ مِنْ السَّتْرِ وَالتَّحَفُّظِ عَكْسُ مَا يُفْعَلُ الْيَوْمَ ، وَالثَّالِثُ : الْفَرْقُ بَيْنَ الْمُتَجَالَّةِ وَالشَّابَّةِ ا هـ ، وَبِهَذَا الثَّالِثِ جَزَمَ الثَّعَالِبِيُّ وَنَصُّهُ : وَأَمَّا النِّسَاءُ فَيُبَاحُ لِلْقَوَاعِدِ وَيَحْرُمُ عَلَى الشَّوَابِّ اللَّاتِي يُخْشَى مِنْهُمْ الْفِتْنَةُ ( قَوْلُهُ بِلَا حَدٍّ إلَخْ ) أَشَارَ بِهَذَا الْقَوْلِ مَالِكٌ بَلَغَنِي أَنَّ الْأَرْوَاحَ بِفِنَاءِ الْمَقَابِرِ فَلَا يَخْتَصُّ زِيَارَتُهَا بِوَقْتٍ بِعَيْنِهِ وَإِنَّمَا يَخْتَصُّ يَوْمُ الْجُمُعَةِ لِفَضْلِهِ وَالْفَرَاغِ فِيهِ نَقَلَهُ الشَّيْخُ زَرُّوقٌ وَقَدْ سَهَّلَ فِي الْمِعْيَارِ تَصْبِيحَ الْقُبُورِ مُحْتَجًّا بِمَا ذَكَرَهُ ابْنُ طَاوُسٍ أَنَّ السَّلَفَ كَانُوا يَفْعَلُونَهُ ا هـ بْن ( قَوْلُهُ وَلْيُحْذَرْ مِنْ أَخْذِ شَيْءٍ مِنْ صَدَقَاتِ إلَخْ ) أَيْ وَأَمَّا مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنْ حَمْلِ تُرَابِ الْمَقَابِرِ لِلتَّبَرُّكِ فَذَكَرَ فِي الْمِعْيَارِ أَنَّهُ جَائِزٌ قَالَ مَا زَالَتْ النَّاسُ يَحْمِلُونَهُ وَيَتَبَرَّكُونَ بِقُبُورِ الْعُلَمَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ا هـ

(Ucapan kiyai Mushonnif Syaikh Ad Dardiri; “Bahkan ziyarah kubur adalah sunnah”) yakni karena sabda Nabi ‘alaihis sholatu wassalaam : “Aku telah (pernah) melarang kalian berziyaroh kubur, maka (sekarang aku perintahkan) berziyarohlah kalian kekuburan” juga karena hadits-hadits yang lain yang mengindikasikan anjuran untuk berziyaroh. Pengarang kitab Al Madkhol menuturkan dalam kitabnya tentang ziyarah kubur bagi perempuan terdapat tiga pendapat : 1. Tidak boleh. 2. Boleh (dengan cara harus) menurut ketentuan syara’ berupa menutup aurot, menjaga diri (dari fitnah) tidak seperti apa yang terjadi hari ini. 3. Membedakan antara wanita yang sudah tua dengan yang masih muda. Pendapat ketiga inilah yang dimantapi oleh Ats Ts’alabiy, dan ketetapannya adalah : Adapun perempuan maka dibolehkan (ziyarah kubur) berdasar kaedah-kaedah, dan haram bagi wanita muda yang dikhawatirkan terjadi fitnah dari para lelaki. (ucapan Mushonnif/Ibnu ‘Abidin; ‘Tanpa batasan) Imam malik mengisyarohkan pendapat ini. Telah sampai padaku; bahwasannya arwah (orang yang sudah meninggal) berada dalam alam fana’ kuburnya, maka tidak dikhususkan menziyarahinya pada waktu tertentu, adapun pengkhususan-nya pada hari Jum’ah disebabkan karena keutamaan hari Jum’ah dan karena adanya waktu luang pada hari Jum’ah. As Syaikh Zarruqiy meriwayatkan hal tersebut, dan dalam Al Mi’yar beliau memberi kemudahan dalam ziyarah kubur diwaktu pagi seraya berhujjah dengan apa yang dituturkan Imam thowus bahwasannya salaf melakukan hal itu. (ucapan Mushonnif; ‘Dan hendaknya menghindari mengambil sesuatu yang berupa sedekah keluarga ahli kubur dst..) yakni : Adapun apa yang dilakukan menusia berupa mengambil tanah kubur dengan maksud Tabarruk (ngalap barokah) maka baliau menuturkan dalam Al Mi’yar, bahwasannya hal itu boleh. Beliau berkata : Manusia senantiasa mengambil tanah kubur dan bertabarruk dengan kubur para ulama, syuhada’ dan orang-orang solih. (Hasyiyatud Dasuqi Alas Syarhil Kabiir, Vol 4 hal, 170)

[ بِلَا حَدٍّ ] : أَيْ فِي أَصْلِ النَّدْبِ ، فَلَا يُنَافِي التَّأَكُّدَ فِي الْأَوْقَاتِ الَّتِي وَرَدَ الْأَمْرُ فِيهَا بِخُصُوصِهَا كَيَوْمِ الْجُمُعَةِ وَرَدَ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : { مَنْ زَارَ وَالِدَيْهِ كُلَّ جُمُعَةٍ غُفِرَ لَهُ وَكُتِبَ بَارًّا } ، وَعَنْ بَعْضِهِمْ : أَنَّ الْمَوْتَى يَعْلَمُونَ بِزُوَّارِهِمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمًا قَبْلَهُ وَيَوْمًا بَعْدَهُ ، وَعَنْ بَعْضِهِمْ : عَشِيَّةَ الْخَمِيسِ وَيَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَ السَّبْتِ إلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ ، قَالَ الْقُرْطُبِيُّ : وَلِذَلِكَ يُسْتَحَبُّ زِيَارَةُ الْقُبُورِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَهَا ، وَيُكْرَهُ السَّبْت فِيمَا ذَكَرَهُ الْعُلَمَاءُ ، لَكِنْ ذُكِرَ فِي الْبَيَانِ : قَدْ جَاءَ أَنَّ الْأَرْوَاحَ بِأَفْنِيَةِ الْقُبُورِ ، وَأَنَّهَا تَطَّلِعُ بِرُؤْيَتِهَا ، وَأَنَّ أَكْثَرَ اطِّلَاعِهَا يَوْمُ الْخَمِيسِ وَالْجُمُعَةِ وَلَيْلَةُ السَّبْتِ ، وَفِي الْقُرْطُبِيِّ أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ : { مَنْ مَرَّ عَلَى الْمَقَابِرِ وَقَرَأَ { قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ } إحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ وَهَبَ أَجْرَهُ لِلْأَمْوَاتِ أُعْطِيَ مِنْ الْأَجْرِ بِعَدَدِ الْأَمْوَاتِ } ( ا هـ .

(tanpa batasan) Yakni ; dalam asal kesunnahannya, maka hal tersebut tikalah menafikan dorongan kuat (untuk ziyaroh) diwaktu-waktu tertentu yang diperintahkan secara khusus, seperti hari Jum’ah. Telah sampai dari Nabi ‘alaihis sholatu wassalaam : “Barangsiapa menziyarahi kedua orang tuanya disetiap hari Jum’ah maka diampuni dosanya dan ia dicatat sebagai anak yang berbakti.” Dan diriwayatkan dari sebagian ulama ; bahwa orang-orang yang sudah meninggal, mereka mengetahui orang-orang yang menziyarahinya dihari jum’ah dan hari sebelumnya juga hari sesudahnya. Dan diriwayatkan pula dari sebagian ulama; (dianjurkan ziyarah) pada sore hari Kamis, hari jum’ah, dan hari Sabtu hingga terbitnya matahari. Al Qurthubi berkata : Oleh karenanya disunnahkan ziyaroh kubur pada malam jum’ah dan hari Jum’ah, dan di makruhkan ziyaroh di hari Sabtu berdasar apa yang dituturkan para ulama, akan tetapi dalam Al Bayan disebutkan : Sungguh telah datang riwayat; bahwasannya Arwah itu berada dalam alam fana kubur, dan sesungguhnya arwah dapat melihat dengan cara mereka, dan kebanyakan keluarnya arwah adalah pada hari Kamis, Jum’ah, dan hari Sabtu. Dalam Tafsir Al Qurthubi disebutkan, sesungguhnya Nabi ‘alaihis sholatu wassalaam bersabda : “Barangsiapa melewati kuburan dan membaca Al Ikhlas sebelas kali kemudian ia berikan pahalanya untuk orang-orang yang telah meninggal, maka orang tersebut diberi pahala sejumlah orang-orang yang telah meninggal.” (Hasyiyatus Showi Alas Syarhis Shoghir, Vol 3 hal, 13)

3. Para Ulama Madzhab Syafi’iyah

فَصْلٌ : وَأَمَّا زِيَارَةُ الْقُبُورِ فَقَدْ كَرِهَهَا مَالِكٌ ، وَهِيَ عِنْدَنَا مُسْتَحَبَّةٌ ، لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : ” إِنِّي نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا ” . قَالَ الشَّافِعِيُّ : الْهُجْرُ فِي هَذَا الدُّعَاءِ بِالْوَيْلِ وَالثُّبُورِ . وَرُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” زُورُوا قُبُورَ مَوْتَاكُمْ فَإِنَّ لَكُمْ فِيهَا اعْتِبَارًا ” ، وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ .

Adapun ziyarah kubur maka Imam Malik memakruhkannya, sedang menurut kami ziyarah kubur adalah dianjurkan, karena apa yang diriwayatkan dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya aku telah (pernah) melarang kalian berziyaroh kubur, maka ingatlah (sekarang aku perintahkan) berziyarohlah kalian kekubu-ran, dan jangan kalian berkata jelek”. Imam As Syafi’iy berkata : (yang dimaksud) perkataan buruk adalah do’a kerusakan dan kebinasaan. Dan diriwayatkan dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam; “Berziyarohlah kalian kekuburan orang-orang mati kalian, sesungguhnya dalam ziyarah kubur terdapat pelajaran bagi kalian” Wallohu Ta’aala A’lam. (Al Haawi Fi Fiqhis Syafi’iy, Vol 3 hal, 70)

(أَمَّا) الْاَحْكَامُ فَاتَّفَقَتْ نُصُوْصُ الشَّافِعِي وَالْاَصْحَابِ عَلَى اَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلرِّجَالِ زِيَارَةُ الْقُبُوْرِ وَهُوَ قَوْلُ الْعُلَمَاءِ كَافَّةً نَقَلَ اَلْعَبْدَرِى فِيْهِ اِجْمَاعَ الْمُسْلِمِيْنَ وَدَلِيْلُهُ مَعَ الْاِجْمَاعِ اَلْاَحَادِيْثُ الصَّحِيْحَةُ اَلْمَشْهُوْرَةُ وَكَانَتْ زِيَارَتُهَا مَنْهِيًا عَنْهَا أَوَّلاً ثُمَّ نُسِخَ ثَبَتَ فِي صَحِيْحِ مُسْلِمٍ رَحِمَهُ اللهُ عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا ” وَزَادَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَالنَّسَائِي فِي رِوَايَتِهِمَا فَزُوْرُوْهَا وَلَا تَقُوْلُوْا هَجْرًا وَالْهَجْرُ اَلْكَلاَمُ الْبَاطِلُ وَكَانَ النَّهْيُ أَوَّلاً لِقُرْبِ عَهْدِهِمْ مِنَ الْجَاهِلِيَّةِ فَرُبَّمَا كَانُوْا يَتَكَلَّمُوْنَ بِكَلاَمِ الْجَاهِلِيَّةِ الْبَاطِلِ فَلَمَّا اسْتَقَرَّتْ قَوَاعِدُ الْاِسْلَامِ وَتَمَهَّدَتْ اَحْكَامُهُ وَاسْتَشْهَرَتْ مَعَالِمُهُ اُبِيْحَ لَهُمُ الزِّيَارَةُ وَاحْتَاطَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ وَلَاتَقُوْلُوْا هَجْرًا قَالَ أَصْحَابُنَا رَحِمَهُمُ اللهُ وَيُسْتَحَبُّ لِلزَّائِرِ اَنْ يَدْنُو مِنْ قَبْرِ الْمَزُوْرِ بِقَدْرِ مَا كَانَ يَدْنُوا مِنْ صَاحِبِهِ لَوْ كَانَ حَيًّا وَزَارَهُ وَأَمَّا النِّسَاءُ فَقَالَ الْمُصَنِّفُ وَصَاحِبُ الْبَيَانِ لَا تَجُوْزُ لَهُنَّ الزِّيَارَةُ وَهُوَ ظَاهِرُ هَذَا الْحَدِيْثِ وَلَكِنَّهُ شَاذٌّ فِي الْمَذْهَبِ وَالَّذِى قَطَعَ بِهِ الْجُمْهُوْرُ اَنَّهَا مَكْرُوْهَةٌ لَهُنَّ كَرَاهَةَ تَنْزِيْهٍ وَذَكَرَ اَلرَّوْيَانِي فِي الْبَحْرِ وَجْهَيْنِ (أَحَدُهُمَا) يُكْرَهُ كَمَا قَالَهُ الْجُمْهُوْرُ (وَالثَّانِى) لَا يُكْرَهُ قَالَ وَهُوَ الْاَصَحُّ

Adapun hukumnya maka ketetapan-ketetapan As Syafi’iy dan para ulama (Syafi’iyah) adalah, bahwasannya disunnahkan bagi laki-laki untuk ziyarah kubur, dan hal itu merupakan pendapat para ulama secara menyeluruh. Al ‘Abdari menukil Ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin dalam masalah ini, sedang dalil beliau disamping ijma’ adalah hadits-hadits sohih yang jelas dan populer. Ziyarah kubur adalah perkara yang pada mulanya dilarang, kemudian larangan tersebut dihapus/disalin sebagaiman hadits yang ada dalam Sohih Muslim –rohimahulloh- dari Buroidah ra, ia berkata; ‘Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “aku telah (pernah) melarang kalian berziyaroh kubur, maka (sekarang aku perintahkan) berziyarohlah kalian kekuburan.” Imam Ahmad bin Hanbal dan Nasai menambahkan dalam riwayat mereka : berziyarohlah kalian kekuburan dan jangan kalian berkata buruk”. Perkataan buruk yang dimaksud adalah perkataan bathil. Larangan ziyarah kubur pada awalnya disebabkan karena dekatnya masa para sahabat dengan masa jahiliyah, sehingga boleh jadi (saat berziyarah) mereka berbicara dengan pembicaraan jahiliyah, oleh karena itu Nabi saw mewanti-wanti dengan sabda beliau : “Dan janganlah kalian berkata buruk”. Ashabuna (para ulama syafi’iyah)-rohimahumulloh- berkata : dianjurkan bagi orang yang berziyarah agar mendekat kemakam orang yang diziyarahi sebatas ia mendekat kepada temannya yang hidup yang ia ziyarahi. Adapun bagi perempuan maka Mushonnif (Abu Ishaq) dan pengarang kitab Al Bayaan berkata : Tidak boleh berziyarah kubur bagi perempuan, dan hal tersebut adalah dzohirnya hadits. Akan tetapi pendapat tersebut adalah pendapat yang sangat jarang dalam kalangan madzhab Syafi’iyah, sedang hukum yang ditetapkan oleh jumhur adalah: bahwasannya ziyarah kubur itu makruh bagi perempuan dengan status “Makruh Tanzih”. Ar Rouyani menuturkan dalam Al Bahr dua pendapat ; pertama : Makruh, sebagaimana pendapat jumhur dan yang kedua adalah tidak makruh dan ini adalah pendapat yang paling sohih. (Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab, vol. 5, hlm. 310)

فَصْلٌ : زِيَارَةُ الْقُبُورِ لِلرِّجَالِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ عِنْدَ الْعُلَمَاءِ مُخْتَلَفٌ فِيْهِ لِلنِّسَاءِ أَمَّا الشَّوَّابُ فَحَرَامٌ عَلَيْهِنَّ الْخُرُوْجُ وَأَمَّا الْقَوَاعِدُ فَمُبَاحٌ لَهُنَّ ذَلِكَ وَجَائِزٌ ذَلِكَ لِجَمِيْعِهِنَّ إِذَا انْفَرَدْنَ بِالْخُرُوْجِ عَنِ الرِّجَالِ وَلاَ يَخْتَلِفُ فِي هَذَا إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى وَعَلَى هَذَا الْمَعْنَى يَكُوْنُ قَوْلُهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ :”زُوْرُوا الْقُبُوْرَ” عَامًا

Ziyarah kubur adalah perkara yang disepakati dikalangan para ulama atas (kebolehan)nya, namun bagi perempuan hukum dalam masalah tersebut diperselisihkan. Adapun bagi wanita muda maka hukumnya haram atas mereka untuk keluar, sedang bagi para wanita tua maka hukumnya mubah bagi mereka. Ziyarah kubur adalah perkara yang dibolehkan bagi semua wanita (baik tua maupun muda) jika keluarnya para wanita (ke makam) terpisah dari kaum pria, dan dalam masalah ini (bolehnya ziyarah kubur bagi semua wanita ketika terpisah dari kaum pria) –Insya Alloh- tidak ada perbedaan pendapat, dan dengan pengertian seperti ini berarti sabda Nabi ‘alaihis sholatu wassalam: “Berziyarahlah kalian ke kubur” berlaku umum. (At Tadzkiroh Lil Qurthubi, Vol 1 hal, 12)

قَالَ النَّوَوِيُ تَبَعًا لِلْعَبْدَرِيّ وَالْحَازِمِي وَغَيْرِهِمَا اِتَّفَقُوْا عَلَى أَنَّ زِيَارَةَ الْقُبُورِ لِلرِّجَالِ جَائِزَةٌ كَذَا اَطْلَقُوا وَفِيْهِ نَظَر لِأَنَّ بْنَ أَبِي شَيْبَةَ وَغَيْرَهُ رَوَى عَنِ بْنِ سِيْرِيْنَ وَإِبْرَاهِيْمَ اَلنَّخَعِي وَالشُّعْبِي اَلْكَرَاهَةَ مُطْلَقًا حَتَّى قَالَ اَلشُّعْبِي لَوْلاَ نَهَي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَزُرْتُ قَبْرَ اِبْنَتِي. فَلَعَلَّ مَنْ أَطْلَقَ أَرَادَ بِالْاِتِّفَاقِ مَا اِسْتَقَرَّ عَلَيْهِ الْأَمْرُ بَعْدَ هَؤُلآءِ وَكَأَنَّ هَؤُلآءِ لَمْ يَبْلُغْهُمْ النَّاسِخُ وَاللهُ أَعْلَمُ

Ibnu Hajar Al ‘Asqolani, setelah beliau menyampaikan hadits riwayat Imam Muslim dan yang lain tentang ziyaroh kubur, beliau berkata : Seraya mengikuti pendapat Al ‘Abdari dan Al Hazimi juga yang lain Imam An Nawawi berkata : Para ulama sepakat bahwasannya ziyarah kubur bagi laki-laki adalah boleh, demikian mereka memutlakkan (kesepakatan para ulama). Dalam hal ini ada yang perlu ditinjau kembali, mengingat Ibnu Abi Syaibah dan yang lain telah meriwayatkan dari Ibnu Sirin, Ibrohim An Nakho’i, serta dari As Syu’biy tentang makruhnya ziyarah kubur secara mutlaq, sampai-sampai As Syu’biy berkata: “Seandainya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam tidak melarang ziyarah kubur, niscaya aku menziyarahi kubur anak perempuanku”. (Ibnu Hajar berkata) : Mungkin yang dikehendaki oleh para ulama yang memuthlaq-kan kesepakatan (bolehnya ziyaroh kubur) berdasar pada apa yang telah ditetapkan sesudah mereka (yang memakruhkan) dan seakan belum sampai kepada mereka (yang memakruhkan) hukum Nasikh (dalil yang menghapus larangan ziyarah kubur). Wallohu A’lam. (Fathul Bari, Vol 3 hal, 148)

4. Para Ulama Madzhab Hanabilah/Hanbaliyah

يُسْتَحَبُّ لِلرِّجَالِ زِيَارَةُ الْقُبُورِ ، نَصَّ عَلَيْهِ ( و ) وَذَكَرَهُ بَعْضُهُمْ ( ع ) لِأَمْرِ الشَّارِعِ بِهِ ، وَإِنْ كَانَ بَعْدَ حَظْرٍ ، لِأَنَّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَلَّلَهُ بِتَذَكُّرِ الْمَوْتِ وَالْآخِرَةِ ، وَنَقَلَ أَبُو طَالِبٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ أَحْمَدَ : كَيْفَ يَرِقُّ قَلْبِي ؟ قَالَ : اُدْخُلْ الْمَقْبَرَةَ ، امْسَحْ رَأْسَ يَتِيمٍ

Dianjurkan bagi laki-laki untuk ziyarah kubur, Beliau menetapkan hal ini, sebagian ulama menuturkan : karena adanya perintah Syari’ (Rosululloh) tentang ziyaroh kubur, meskipun perintah itu taerjadi setelah larangan, karena sesung-guhnya Nabi as, memberi alasan bahwa ziyarah kubur dapat mengingatkan kematian dan akhirat. Abu Tholib meriwayatkan : Bahwa seorang lelaki bertanya kepada Imam Ahmad ; “Bagaimana caranya agar hatiku lembut?” Imam Ahmad menjawab : “Masuklah kekuburan, usaplah kepala anak yatim”. (Al Furuu’, vol. 3 hlm. 346)

وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ سَعِيدٍ : سَأَلْت أَحْمَدَ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ ، تَرْكُهَا أَفْضَلُ عِنْدَك أَوْ زِيَارَتُهَا ؟ قَالَ : زِيَارَتُهَا وَقَدْ صَحَّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { كُنْت نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ ، فَزُورُوهَا ؛ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْمَوْتَ } .رَوَاهُ مُسْلِمٌ . وَالتِّرْمِذِيُّ بِلَفْظِ : ” فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ ” .

Ali bin Sa’id berkata : ‘Aku bertanya kepada imam Ahmad tentang ziyarah kubur, “Manakah menurutmu yang lebih utama meninggalkan ziyarah kubur atau menziyarahinya?”. “Menziyarahinya” Jawab Imam Ahmad. Dan sungguh telah sohih dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya beliau bersabda :“Aku telah (pernah) melarang kalian berziyaroh kubur, maka (sekarang aku perintahkan) berziyarohlah kalian kekuburan, sesungguhnya ziyarah kubur dapat mengingatkan kalian pada kematian” HR. Muslim dan At Tirmidzi dengan redaksi “Sesungguhnya ziyarah kubur dapat mengingatkan akhirat.” (Al Furuu’, vol. 5, hlm. 77)

(فَصْلٌ) (وَيُسْتَحَبُّ لِلرِّجَالِ زِيَارَةُ الْقُبُوْرِ، وَهَلْ يُكْرَهُ لِلنِّسَاءِ عَلَى رِوَايَتَيْنِ) لاَنَعْلَمُ خِلاَفًا بَيْنَ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي اسْتِحْبَابِ زِيَارَةِ الرِّجَالِ الْقُبُوْرَ.

(Dan disunnahkan bagi laki-laki ziyarah kubur, tentang apakah ziyarah dimak-ruhkan bagi perempuan, maka terdapat dua pendapat). Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dikalangan ahli ilmu tentang disunnahkannya ziyarah kubur bagi laki-laki. (Syarhul Kabiir Libni Qudamah, Vol 2 hal, 426)

( فَصْل يُسَنُّ لِذُكُورٍ زِيَارَةُ قَبْرِ مُسْلِمٍ ) نَصَّ عَلَيْهِ ، وَحَكَاهُ النَّوَوِيُّ إجْمَاعًا لِقَوْلِهِ : صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا } رَوَاهُ مُسْلِمُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَزَادَ { فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ } وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَة { زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ وَقَالَ : اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يَأْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لِي فَزُورُوا الْقُبُورَ ، فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْمَوْتَ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

(Fasal: Disunnahkan bagi laki-laki menziyarahi kubur seorang muslim) Pengarang Al Iqna’ (Al Imam Syarofuddin Abin Naja Musa bin Ahmad) menetapkan hal ini dan imam An Nawawi meriwayatkannya sebagai Ijma’ berdasar sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, “Aku telah (pernah) melarang kalian berziyaroh kubur, maka (sekarang aku perintahkan) berziyarohlah kalian kekuburan” Riwayat Muslim dan At Tirmidzi menambahkan “Sesungguhnya ziyarah kubur dapat mengingatkan akhirat.” Dan Abu Huroiroh berkata : “Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam menziyarahi makam ibunya, kemudian beliau menangis dan membuat orang-orang disekitarnya menangis, Beliau Rosululloh saw bersabda : “Aku memohon izin kepada tuhanku agar aku diperkenankan memohonkan ampun untuk ibuku dan Alloh tidak mengizinkanku, maka aku meminta izin menziyarahi kuburnya dan Alloh mengizinkanku, maka berziyarahlah kalian kekuburan, sesungguhnya ziyarah kubur dapat mengingatkan kalian akan kematian.” Muttafaq ‘Alaih (Kassyaful Qina’ ‘An Matnil Iqnaa’, vol. 4, hlm. 435)

5. Syaikhul Islam Ahmad Ibn Taimiyah

أَجَابَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. أَمَّا زِيَارَةُ الْقُبُورِ فَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ قَدْ نَهَى عَنْهَا نَهْيًا عَامًّا، ثُمَّ أَذِنَ فِي ذَلِكَ. فَقَالَ: {كُنْت نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا. فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ} وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَ أُمِّي، فَأَذِنَ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُ فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا، فَلَمْ يَأْذَنْ لِي، فَزُورُوا الْقُبُورَ، فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ}.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika ditanya tentang ziyarah kubur beliau menjawab : Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin. Adapun ziyarah kubur, sungguh terdapat dalam sohih dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, bahwasannya beliau pernah melarang ziyarah kubur dengan larangan yang bersifat umum, kemudian beliau mengizinkan ziyarah kubur. Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Aku telah (pernah) melarang kalian berziyaroh kubur, maka (sekarang aku perintahkan) berziyarohlah kalian kekuburan, sesungguhnya ziyarah kubur dapat mengingatkan akhirat.” Dan Nabi saw bersabda : “Aku memohon izin kepada tuhanku untuk diperkenankan menziyarahi makam ibuku dan Alloh mengizinkanku, dan aku memohon izin agar aku diperkenankan memohonkan ampun untuk ibuku dan Alloh tidak mengizinkanku, maka berziyarahlah kalian, sesungguhnya ziyarah kubur dapat mengingatkan kalian akan akhirat.” (Al Fataawa Al kubro, Vol 3 hal, 43)

Sebagaimana paparan Syaikh Ibnu Taimiyah di atas kita dapati kesimpulan bahwa pada dasarnya beliau memperkenankan ziyarah kubur, akan tetapi kelanjutan dari jawaban beliau yang sengaja tidak kami sertakan, kami beralasan karena lanjutan dari jawaban beliau berbelok ke masalah tawassul dengan wasilah orang yang sudah meninggal.

Oleh: Ustadz Abu Hilya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *