TENTANG TRADISI TAHLILAN, YASINAN DAN SEMISAL

Diposting pada

tahlilan

TENTANG TRADISI TAHLILAN, YASINAN DAN SEMISAL

Berkumpul untuk melakukan Tahlilan, Yasinan atau yang lain, merupakan tradisi mayoritas ummat islam di Indonesia yang berlaku secara turun temurun. Memang format acaranya belum pernah ada contohnya dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, akan tetapi tradisi tersebut dalam kalangan para Ulama khususnya madzhab Syafi’iyyah merupakan bid’ah hasanah setidaknya dengan dua alasan :

Pertama : Dalam tradisi tersebut tidak ada perkara yang menyelisihi dalil-dalil agama.
Kedua : Tradisi Tahlilan, Yasinan atau yang lain bernaung dibawah dalil-dalil umum yang tidak terdapat takhshish (pembatasan) dalam pelaksanaannya, seperti :

Sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ قَالَ فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ مَا يَقُولُ عِبَادِي قَالُوا يَقُولُونَ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ هَلْ رَأَوْنِي قَالَ فَيَقُولُونَ لَا وَاللهِ مَا رَأَوْكَ قَالَ فَيَقُولُ وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا قَالَ يَقُولُ فَمَا يَسْأَلُونِي قَالَ يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً قَالَ فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ قَالَ يَقُولُونَ مِنْ النَّارِ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً قَالَ فَيَقُولُ فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ قَالَ يَقُولُ مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ قَالَ هُمْ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

Dari Abi Huroiroh, ia berkata; Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Alloh mempunyai para malaikat yang senantiasa mengelilingi jalan-jalan guna mencari orang-orang yang berdzikir, dan ketika para malaikat mendapati kaum yang sedang berdzikir maka para malaikat berkata; ‘kemarilah, sampaikan hajat kalian’. Rosululloh bersabda: “Para malaikat tersebut mengelilingi orang-orang yang berdzikir dengan sayap-sayap mereka sampai kelangit dunia.” Nabi bersabda: “Kemudian Alloh bertanya kepada para malaikat –sedang Alloh lebih tahu daripada para malaikat-Nya- “Apa yang diucapkan hamba-hamba-Ku?” para malaikat menjawab : “mereka mensucikan-Mu, mengagungkan-Mu, memuji-Mu, memulyakan-Mu”. Rosululloh bersabda: ‘Alloh bertanya : “Apakah mereka pernah melihat-Ku?” “Tidak –demi Alloh- mereka belum pernah melihat-Mu” jawab para malaikat. Rosululloh bersabda; Alloh bertanya : “Bagaimana seandainya mereka pernah melihat-Ku?” para malaikat menjawab : “Seandainya mereka pernah melihat-Mu niscaya mereka akan lebih beribadah pada-Mu, lebih mengagungkan-Mu, lebih memuji-Mu juga lebih banyak mensucikan-Mu.” Rosululloh bersabda: Alloh bertanya : “Apa yang mereka minta pada-Ku?” “mereka meminta sorga” jawab para malaikat, Rosululloh bersabda: Alloh bertanya : “Adakah mereka pernah melihat sorga?” para malaikat menjawab : “Tidak –demi Alloh- mereka belum pernah melihat sorga.” “Bagaimana jika mereka pernah melihat sorga?” tanya Alloh. Para malaikat menjawab : “Seandainya mereka pernah melihat sorga niscaya mereka akan lebih menginginkannya dan akan lebih berusaha mendapatkannya serta akan lebih besar keinginannya akan sorga”. Rosululloh bersabda: Kemudian Alloh bertanya : “Dari apa mereka meminta perlindungan?” “dari neraka” jawab para malaikat, Rosululloh bersabda: kemudian Alloh bertanya : “Apakah mereka pernah melihat nereka?” para malaikat menjawab : “Tidak –demi Alloh- mereka belum pernah melihat neraka”. Rosululloh bersabda: Kemudian Alloh bertanya : “Bagaimana jika mereka pernah menyaksikan neraka?” para malaikat menjawab : “Seandainya mereka pernah menyaksikan neraka niscaya mereka akan lebih lari (menjauh) darinya dan akan lebih takut”. Rosululloh bersabda: Selanjutnya Alloh berfirman : “Maka saksikanlah oleh kalian bahwasannya Aku telah mengampuni mereka”. Rosululloh bersabda: Di antara para malaikat ada yang bertanya : “Diantara orang-orang yang berdzikir tersebut ada si fulan yang tidak termasuk diantara mereka (tidak ikut berdzikir), sesungguhnya dia datang karena ada suatu keperluan” Alloh pun menjawab : “Mereka adalah orang-orang yang duduk (jadi satu), maka teman duduk mereka tidak akan celaka berkat mereka.” (HR, Bukhori, Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dan yang lain).

Dalam riwayat Imam Ahmad dan Al Hakim disebutkan diantaranya dengan redaksi : “Bahwawasannya Alloh memiliki para malaikat yang senantiasa berjalan seraya mencari majlis-majlis dzikir dst..”

Dalam kaitan hadits diatas Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqolani memberi penjelasan sebagai berikut:

وَفِي الْحَدِيْثِ فَضْلُ مَجَالِسِ الذِّكْرِ واَلذَّاكِرِيْنَ وَفَضْلُ الْاِجْتِمَاعِ عَلَى ذَلِكَ وَاَنَّ جَلِيْسَهُمْ يَنْدَرِجُ مَعَهُمْ فِي جَمِيْعِ مَا يَتَفَضَّلُ اللهُ تَعَالَى بِهِ عَلَيْهِمْ اِكْرَامًا لَهُمْ وَلَوْ لَمْ يُشَارِكْهُمْ فِي أَصْلِ الذِّكْرِ وَفِيْهِ مَحَبَّةُ الْمَلآئِكَةِ بَنِي اَدَمَ وَاعْتِنَاؤُهُمْ بِهِمْ

Dalam hadits tersebut terdapat keutamaan majlis-majlis dzikir, orang-orang yang berdzikir, juga keutamaan untuk berkumpul guna berdzikir. Dan sesungguhnya orang yang ikut duduk dengan orang-orang yang berdzikir, ia masuk dalam golongan orang-orang yang berdzikir dalam semua keutamaan yang diperoleh -sebagai penghormatan bagi orang-orang yang berdzikir- meskipun orang yang ikut duduk tersebut samasekali tidak ikut dzikir bersama mereka. Dan dalam hadits tersebut juga terdapat (penjelasan tentang) kecintaan dan pertolongan para malaikat kepada manusia. (Fathul Bari vol, 11. hal, 213)

Sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam :

عَنْ الْأَغَرِّ أَبِي مُسْلِمٍ أَنَّهُ قَالَ أَشْهَدُ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Dari Al Aghorr Abi Muslim, ia berkata ; Aku menyaksikan Abu Huroiroh dan Abu Sa’id Al Khudzri, keduanya menyaksikan bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidaklah berkumpul suatu kaum sambil berdzikir kepada Alloh melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat tercurah pada mereka, ketenangan turun atas mereka, dan Alloh memuji mereka dihadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. (HR. Muslim)

Syaikh Ibnu Taimiyah

وَسُئِلَ : عَنْ رَجُلٍ يُنْكِرُ عَلَى أَهْلِ الذِّكْرِ يَقُولُ لَهُمْ : هَذَا الذِّكْرُ بِدْعَةٌ وَجَهْرُكُمْ فِي الذِّكْرِ بِدْعَةٌ وَهُمْ يَفْتَتِحُونَ بِالْقُرْآنِ وَيَخْتَتِمُونَ ثُمَّ يَدْعُونَ لِلْمُسْلِمِينَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ وَيَجْمَعُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّحْمِيدَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّكْبِيرَ وَالْحَوْقَلَةَ وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْمُنْكِرُ يُعْمِلُ السَّمَاعَ مَرَّاتٍ بِالتَّصْفِيقِ وَيُبْطِلُ الذِّكْرَ فِي وَقْتِ عَمَلِ السَّمَاعِ “
فَأَجَابَ : الِاجْتِمَاعُ لِذِكْرِ اللهِ وَاسْتِمَاعِ كِتَابِهِ وَالدُّعَاءِ عَمَلٌ صَالِحٌ وَهُوَ مِنْ أَفْضَلِ الْقُرُبَاتِ وَالْعِبَادَاتِ فِي الْأَوْقَاتِ فَفِي الصَّحِيحِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { إنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ فَإِذَا مَرُّوا بِقَوْمِ يَذْكُرُونَ اللهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إلَى حَاجَتِكُمْ } وَذَكَرَ الْحَدِيثَ وَفِيهِ { وَجَدْنَاهُمْ يُسَبِّحُونَك وَيَحْمَدُونَك } لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ هَذَا أَحْيَانًا فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ وَالْأَمْكِنَةِ فَلَا يُجْعَلُ سُنَّةً رَاتِبَةً يُحَافَظُ عَلَيْهَا إلَّا مَا سَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُدَاوَمَةَ عَلَيْهِ فِي الْجَمَاعَاتِ ؟ مِنْ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ فِي الْجَمَاعَاتِ وَمِنْ الْجُمُعَاتِ وَالْأَعْيَادِ وَنَحْوِ ذَلِكَ . وَأَمَّا مُحَافَظَةُ الْإِنْسَانِ عَلَى أَوْرَادٍ لَهُ مِنْ الصَّلَاةِ أَوْ الْقِرَاءَةِ أَوْ الذِّكْرِ أَوْ الدُّعَاءِ طَرَفَيْ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنْ اللَّيْلِ وَغَيْر ذَلِكَ : فَهَذَا سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا

Syaikh Ibnu Taimiyah ditanya tentang seseorang yang mengingkari ahli dzikir (berjama’ah) dengan berkata pada mereka : “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah.” Jama’ah tersebut memulai dan menutup dzikirnya dengan al qur’an, lalu mendo’akan kaum muslimin yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Mereka merangkai bacaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, Hauqolah (Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah) dan sholawat kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam ?

Syaikh Ibnu Taimiyah menjawab :”Berkumpul untuk berdzikir, mendengarkan al qur’an dan berdo’a adalah amal sholih dan termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama di setiap waktu. Dalam shohih (Al Bukhori) bahwasannya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Alloh memiliki banyak malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Alloh, maka mereka memanggil : “Silahkan sampaikan hajat kalian”, Ibnu Taimiyah menuturkan hadits tersebut (secara utuh), dan didalamnya terdapat redaksi; “Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu”. Akan tetapi hendaknya hal ini dilakukan dalam sebagian waktu dan keadaan, dan tidak menjadikannya sebagai sunnah yang dipelihara yang mengiringi sholat, kecuali perkara yang telah di contohkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam untuk di lakukan secara istiqomah berupa sholat lima waktu, jum’at, dan perayaan-perayaan (‘id) juga yang semisal. Adapun memelihara rutinitas wirid-wirid yang ada padanya, berupa sholawat, bacaan al qur’an, dzikir, atau do’a setiap pagi dan sore serta pada sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan hamba-hamba Alloh yang sholih zaman dahulu dan sekarang. (Majmu’ Fataawaa, vol. 22, hal. 520)

 

Oleh Ustadz Abu Hilya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *